Perlukah IPA dihilangkan dari Kurikulum SD?


Baru-baru ini Kemendiknas mengemukakan wacana untuk mengurangi jumlah mata pelajaran di SD dengan menghilangkan pelajaran sains, baik di bidang sosial maupun alam. Baru-baru ini, wacana itu sedikit berubah menjadi akan digabungkan. Namun demikian wacana tersebut tetap saja menyita sebagian perhatian kita.

Alasan dari wacana ini setidaknya ada dua. Pertama, beban pelajaran anak-anak SD dianggap terlalu berat. Saat ini dalam kurikulum nasional setidaknya terdapat 7 mata pelajaran nasional dari 2 muatan lokal yang biasanya diisi dengan pelajaran keterampilan dan pelajaran bahasa daerah. Jumlah mata pelajaran ini belum ditambah dengan pelajaran-pelajaran khusus di sekolah-sekolah dasar yang mengatasnamakan agama.

Sekolah Dasar Islam misalnya, punya tambahan pelajaran akidah, bahasa Arab, Hadits dan sebagainya. Jadi bisa dibayangkan betapa beratnya beban anak-anak SD. Itupun belum ditambah dengan kewajiban khusus seperti Pekerjaan Rumah (PR) dan beberapa orang tua yang mengharuskan anaknya ikut bimbingan belajar. Tidak heran jika menurut para psikolog banyak anak-anak SD menderita stress karena beratnya beban pelajaran tersebut.

Kedua, perubahan jumlah mata pelajaran itu juga merupakan cerminan dari kebijakan pendidikan yang akhir-akhir ini dipenuhi wacana perlunya pengembangan kepribadian atau pengembangan karakter. Berbagai penyimpangan perilaku seperti tawuran, penyalahgunaan narkoba, seks bebas hingga korupsi menurut banyak pakar merupakan cerminan dari kegagalan sistem pendidikan membentuk karakter. Bagi para pengritiknya, kebijakan pendidikan hanya diarahkan untuk membentuk kemampuan kognitif anak-anak sehingga anak-anak tidak mampu menemukan jati dirinya. Eksploitasi kemampuan kognitif yang lebih cenderung membentuk kemampuan teknis juga dianggap sebagai upaya untuk menciptakan manusia-manusia robotik dan tidak sesuai dengan semangat pembangunan untuk membangun manusia Indonesia yang seutuhnya.

 

Kebutuhan Zaman

Dua alasan yang dikemukakan di atas dapat kita terima sebagai sebuah pembenaran untuk meninjau ulang keseluruhan politik pendidikan kita termasuk di dalamnya kebijakan penyusunan kurikulum. Namun hal ini tidak mengurangi kita untuk bertanya, sudah tepatkah keinginan pemerintah untuk mereduksi kurikulum dengan menghilangkan pelajaran sains? Pertanyaan kedua, apa yang sebenarnya bisa dilakukan untuk membentuk sebuah kurikulum yang tidak membebani anak didik tetapi tetap sesuai dengan perkembangan zaman?

Menurut hemat Penulis, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut kita harus melihat kerangka besarnya yaitu era yang sekarang kita alami. Dunia yang telah mengalami globalisasi menuntut kemampuan daya saing (competitiveness) karena kita makin menganut pasar bebas. Globalisasi telah mengubah sama sekali pola pergaulan antar bangsa, antar kelompok masyarakat bahkan antar individu. Batas-batas teritorial dan politik melebur hingga kita tidak lagi bisa menentukan kebijakan sesuai dengan kemauan sendiri. Artinya, apapun kemauan kita harus disesuaikan dengan tuntutan eksternal.

Kembali pada politik pendidikan kita, sesungguhnya dunia global makin membutuhkan pola pikir ilmiah dan kemampuan dasar berupa pengetahuan dasar tentang sains pada anak-anak didik sejak dari usia dini. Kemampuan ini penting bagi anak-anak agar mereka mempunyai kemampuan teknis yang dibutuhkan untuk menghadapi persaingan di tingkat global. AS, negara-negara barat, Jepang  dan China memberikan muatan sains sejak usia dini ini karena mereka sadar bahwa hal itu merupakan kebutuhan tak terbantahkan di era yang semakin modern. Tidak hanya kemampuan teknis operasional yang membutuhkan kemampuan ini, bahkan pemerintah negara-negara yang berkembang pesat atau negara maju mengarahkan ini untuk memperkuat kekuatan mereka dalam penguasaan kemampuan ilmu dasar seperti matematika, fisika, kimia dasar yang menjadi landasan pengembangan teknik metalurgis, komputasi dan lain sebagainya. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi Indonesia untuk menghindari pemberian muatan sains pada anak-anak usia dini.

Bagaimana dengan alasan kedua: benarkah upaya untuk membentuk kepribadian dan karakter harus dilakukan dengan menghilangkan pelajaran sains? Pertama, Penulis setuju bahwa pendidikan mental spiritual perlu diberikan agar anak-anak punya bekal untuk menghadapi dunianya. Kedua, meskipun pengetahuan agama penting namun sebenarnya pembentukan kepribadian tidak semata-mata ditentukan oleh doktrinasi khas pendidikan agama atau pendidikan kewargaan. Dalam globalisasi yang ditandai oleh pertukaran informasi yang sedemikian cepat, doktrinasi harus diiringi dengan rasionalitas.

Sebagai contoh, salah satu negara yang paling maju dalam pendidikan kewargaan adalah Amerika Serikat. Mereka berhasil menanamkan nilai patriotisme sejak usia dini. Namun demikian cara mereka menanamkan itu tidak hanya dilakukan dengan pengajaran verbal di kelas, tetapi juga dilakukan dengan berbagai cara termasuk memberi gambaran kondisi riil bangsa Amerika Serikat dan apa yang menjadi kebutuhan mereka. Bahkan melalui praktik drama yang memerankan profesi-profesi yang ada di masyarakat, kepribadian anak bisa dibentuk. Dari pendekatan seperti itu mereka diajarkan tanggung jawab sosial dan tanggung jawab berbangsa.

 

Pola Pikir Saintifik dalam Kurikulum

Lalu, apa sebenarnya langkah yang seharusnya ditempuh untuk memperbaiki kurikulum? Melalui beberapa penelitian kecil terhadap kandungan buku pelajaran anak SD, pertama, Penulis mendapati bahwa memang beban pelajaran anak SD kita sangat berat. Kedua, ternyata beban yang berat tersebut lebih bernuansa hapalan. Hal ini ditandai dengan banyaknya muatan yang dijejalkan kepada anak SD. Di pelajaran SD kelas I, misalnya mengenai identitas diri, anak-anak diharuskan menghapalkan sekian banyak identitas orang yang berhubungan dengan dirinya, lengkap dengan keharusan menghapal pohon silsilah yang rumit. Padahal anak seusia itu seharusnya diberikan konsep identitas yang sesederhana mungkin seperti bahwa mereka adalah anggota keluarga, anggota masyarakat dan anggota negara. Itupun harus dilakukan dengan pendekatan yang sangat sederhana, bukan dengan hapalan-hapalan yang demikian banyak. Pengajaran juga bisa dilakukan dengan membuat sebuah permainan dengan mengambil konsep-konsep identitas tadi, bukan semata-mata dengan pengajaran verbal.

Dari pola kurikulum yang seperti itu, kita bisa menduga bahwa ada kebijakan yang terlalu ambisius dari penyusun kurikulum agar anak didik menguasai banyak hal sehingga kadang-kadang tidak sesuai dengan psikologi dan perkembangan otak anak. Hal ini berimbas pada konsep pengukuran keberhasilan yang dipakai. Parameter yang dipakai bukan kompetensi dan pola pikir tetapi lebih pada parameter permukaan yaitu kemampuan menghapal.

Seharusnya anak usia SD, sebagaimana namanya, hanya dibebani kompetensi dasar yang akan membentuk pola pikir mereka, bukan menguasai pelajaran yang terhitung advance. Pola pikir ilmiahlah yang ditargetkan untuk dibentuk. Ini berarti bahwa kita harus mengurangi porsi pengajaran kognitif dengan menggesernya kepada pengajaran mental psikologis dan metode-metode ilmiah.

Intinya, sebenarnya pemerintah tidak perlu menghilangkan pengajaran sains di kurikulum SD, tetapi mengubah filsafat pengambilan kebijakan yang dipakai. Hal ini sebenarnya sudah diterapkan di sekolah-sekolah internasional yang cukup maju. Sebagai contoh, anak-anak elementary di sekolah internasional diajarkan untuk memahami cara-cara ilmiah dalam penelitian yang diawali dengan pertanyaan, dilanjutkan dengan penyusunan hipotesis, percobaan-percobaan hingga pengambilan kesimpulan. Mereka melakukannya untuk praktik-praktik sederhana misalnya mengapa air mengalir ke bawah, tumbuhan perlu cahaya dan lain-lain.

Pola-pola sederhana itulah yang perlu dikembangkan di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Kita harus mengurangi ambisi memberikan pengetahuan yang sangat banyak pada anak didik tetapi harus diganti dengan ambisi agar anak didik kita mempunyai pola pikir saintifik. Dengan demikian muatan yang ada bisa dirampingkan dan tidak membebani anak-anak. Sebaliknya anak-anak juga akan makin senang dengan ilmu pengetahuan dan teknologi karena pendekatan yang dipakai akan memancing kreativitas berpikir mereka untuk membedah macam-macam fenomena yang mereka hadapi.

Penulis yakin, dengan konsep seperti itu, anak-anak SD akan mempunyai dasar yang kuat sebagai seorang pelajar yang baik di tingkat yang lebih tinggi. Pendekatan yang seperti itu juga akan mengembangkan kepribadian yang lebih tangguh dalam menghadapi kondisi kontekstual yang ada. Semoga!

 

Penulis adalah kolumnis Suara Pembaruan.