Sumpah Pemuda dan Revitalisasi Semangat Kebangsaan


Banyak aspek yang menjadi penyebab dari segala persoalan bangsa ini. Dari semua aspek yang ada, menurunnya semangat kebangsaan adalah sebab yang perlu mendapat perhatian lebih. Banyak pihak menilai bahwa bangsa ini mengalami penurunan semangat kebangsaan. Bagi beberapa kalangan, kebanggaan menjadi bagian dari Bangsa Indonesia mungkin sudah menurun melihat kompleksnya permasalahan nasional yang dihadapi Indonesia, mulai dari korupsi, konflik sosial, tingginya kriminalitas, lemahnya penegakan hukum, sampai kepada praktik diskriminasi terhadap suku, agama, ras, dan golongan minoritas.

Memudarnya semangat kebangsaan ini telah menodai sejarah kebangsaan Indonesia. Jauh sebelum kemerdekaan dan reformasi di Indonesia, Bangsa Indonesia telah menelurkan Sumpah Pemuda sebagai bentuk dari semangat kebangsaan. Padahal situasi saat itu serba sulit. Kebebasan dikekang penjajah, segala kegiatan diawasi ketat oleh Belanda. Namun, tepat pada 28 Oktober 1928, tercetus tiga kalimat yang menggambarkan kecintaan kepada Indonesia. Pertama, kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kedua, kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia. Ketiga, kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda mencerminkan semangat kebangsaan yang tinggi. Inilah yang diinginkan oleh rakyat Indonesia dan sekaligus mesti dijaga oleh Bangsa Indonesia. Jika pada tahun 1928, semangat kebangsaan ditunjukkan dengan usaha untuk memperoleh kemerdekaan, karena kita belum merdeka. Kini, berhubung kita sudah merdeka, semangat kebangsaan itu harus ditunjukkan dengan usaha untuk mengisi dan mempertahankan kemerdekaan dan mencapai tujuan nasional Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD tahun 1945.


Revitalisasi Semangat Kebangsaan

Salah satu faktor yang patut dicermati sebagai tantangan terhadap lunturnya semangat kebangsaan adalah globalisasi. Semangat kebangsaan memang sulit untuk ditingkatkan seiring dengan perkembangan zaman dan derasnya arus globalisasi. Prinsip-prinsip dasar globalisasi antara lain: keterbukaan, kebebasan yang bertumpu pada individualisme, kompetisi dan interaksi yang cepat antar individu maupun negara, membawa banyak dampak positif dan negatif.

Menurut Penulis, dampak positif dan negatif dari globalisasi ditentukan oleh kesiapan dan sikap yang tepat dalam menghadapi globalisasi. Setiap individu pasti akan menghadapi arus deras globalisasi, karena globalisasi memang merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari oleh siapapun juga, di tengah era modern yang serba terbuka. Bagi mereka yang siap menghadapi nilai-nilai globalisasi, tentu akan dapat menikmati dampak positif dari globalisasi. Namun bagi mereka yang tidak siap, globalisasi hanya akan melahirkan kesengsaraan dan semakin menurunkan semangat kebangsaan. Penulis berpendapat bahwa solusi untuk menyikapi globalisasi dengan tepat dan membuat masyarakat siap dengan globalisasi adalah dengan peningkatan dan revitalisasi terhadap semangat kebangsaan sesuai dengan apa yang sudah dicetuskan pada Sumpah Pemuda.

Pertama, semangat kebangsaan yang muncul dari Sumpah Pemuda perlu dipahami sesuai dengan konteks kekinian. Imperialisme dan kolonialisme telah berubah wujud, bukan lagi pendudukan negara lewat kekuatan militer, melainkan penjajahan dari berbagai aspek (ekonomi, politik, sosial, budaya). Siapa yang mampu secara kapasitas, maka dialah yang akan berhasil dan bukan tidak mungkin akan mempengaruhi komunitasnya atau bahkan negara lain. Oleh karena itu, pemaknaan semangat kebangsaan adalah bagaimana upaya kita untuk mengisi dan mempertahankan kemerdekaan yang disertai dengan peningkatan kapasitas diri. Keberhasilan dan kesuksesan tidak lagi dilihat dari status, kedudukan, sejarah, atau latar belakang, tetapi dilihat dari kemampuannya.

Apa artinya bangsa besar yang memiliki sejarah bagus apabila dalam masa sekarang tidak memiliki masyarakat yang maju? Bangsa dan negara akan maju apabila masyarakatnya maju, dan masyarakat akan maju apabila individunya mau untuk maju. Oleh karena itu, setiap individu harus kritis, kreatif, dan inovatif, sehingga capacity building dapat terwujud. Dengan cara ini, maka pemberdayaan masyarakat dapat tercapai. Minimal, pemberdayaan masyarakat dapat membuat masyarakat mampu berhadapan secara setara dengan pembuat kebijakan dan memampukan mereka untuk menyatakan aspirasinya sehingga negara, pemerintah, dan masyarakat dapat saling memberdayakan satu sama lain.

Kedua, memperkuat kecintaan dan kebanggaan terhadap Bangsa dan Negara Indonesia. Misalnya, menggunakan produk-produk lokal dan menanamkan mindset cinta produk Indonesia. Namun, produk lokal dari suatu daerah haruslah baik kualitasnya agar dapat mengungguli produk dari luar. Jadi tidak hanya sekadar mensubsidi produk lokal dengan menggunakan atau membeli produk lokal tanpa melihat kualitasnya, melainkan membeli atau mengonsumsi produk lokal karena keunggulan dan kualitasnya. Dengan kata lain, kualitas bagus yang dimiliki oleh produk lokal akan membuat produk lokal bertahan dan berkembang di tingkat nasional, dan bahkan bisa berkompetisi dengan produk luar di dunia internasional.

Sebagai contoh, batik lokal suatu daerah akan bisa berjaya di tingkat nasional apabila mampu menunjukkan kualitasnya. Apabila batik lokal tersebut secara terus menerus diperkenalkan ke dunia internasional, ada kemungkinan masyarakat negara lain akan menyukai dan menggunakan produk tersebut karena kualitasnya. Dan bukan tidak mungkin negara-negara lain akan memproduksi batik, sehingga produk lokal Indonesia tidak hanya dikenal oleh dunia internasional sebagaimana sudah diakui UNESCO, melainkan juga turut mempengaruhi negara lain secara positif dalam produksi batik. Jadi bisa dikatakan bahwa, kalau kita mau mencintai produk Indonesia, maka kita harus juga belajar untuk mencintai peningkatan kualitas produk Indonesia.

Ketiga, kecintaan terhadap Indonesia juga bisa dilakukan dengan kebanggaan dalam menggunakan Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan yang patut dijunjung tinggi. Namun, bangga dalam menggunakan Bahasa Indonesia, bukan berarti tidak mau belajar bahasa asing. Dengan mempelajari bahasa asing, kita dapat berinteraksi dengan masyarakat negara lain, dan itu merupakan bagian dari capacity building yang akan dapat menunjukkan identitas kita di hadapan masyarakat negara lain. Dengan interaksi tersebut, kita dapat memperkenalkan budaya dan bahasa kita, dan bukan tidak mungkin mensosialisasikan dan mengajarkan Bahasa Indonesia kepada dunia internasional. Namun, sosialisasi dan pengajaran Bahasa Indonesia kepada dunia internasional tentu akan sulit terwujud kalau sejak pertama kita tidak mau atau tidak bisa berinteraksi dengan negara lain karena kita tidak mau atau tidak bisa berbahasa asing.

Keempat, menghilangkan segala bentuk diskriminasi terhadap suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, dan penyandang cacat. Demokrasi menginginkan agar minoritas tidak diabaikan. Maka dari itu, kita harus memperlakukan mereka setara dan tidak diskriminatif. Bukankah dalam semangat kebangsaan terkandung nilai persamaan? Selain itu, perbedaan merupakan hal yang tidak bisa dihindari dan harus dianggap sebagai kekayaan yang bersifat mempersatukan.

Hal ini sudah tercermin dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika yang sudah ditemukan dan dipraktikan pada zaman Kerajaan Majapahit serta terbukti telah menjadi dasar untuk mempererat persatuan wilayah dan masyarakat sebelum Indonesia menjadi sebuah negara. Apabila praktik diskriminasi terus menerus dikembangkan, maka Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara akan tidak solid persatuannya, sehingga akan sangat rentan dalam menghadapi arus keterbukaan dan kebebasan yang dibawa oleh globalisasi, sehingga akan semakin rentan pula dalam menghadapi ancaman-ancaman dari luar seperti negara-negara dan organisasi-organisasi asing.

Sumpah Pemuda adalah momentum dari upaya kita menegaskan komitmen kebangsaan. Semuanya bermuara pada pembangunan bangsa (nation building) yang berkelanjutan untuk mendukung pembangunan di semua sektor demi mencapai tujuan nasional. Dan nation building itu sangat bergantung kepada semangat kebangsaan yang tepat dan kuat. Tanpa nation building yang mantap, apalagi dalam menghadapi era globalisasi sekarang, kita seperti sedang membangun bangunan tanpa fondasi yang kokoh. Meskipun nampak berdiri megah, tapi keropos dan gampang runtuh. Jadi, mari kita terus perkuat pada komitmen kebangsaan dengan konteks kekinian yang modern untuk menghadapi zaman yang bergerak dinamis.

 

Penulis adalah kolumnis Suara Pembaruan